Kamis, 24 April yang lalu, aku membeli sebuah buku karangan Leo Tolstoy berjudul Ziarah. Buku ini berisi kumpulan cerpen dan perenungan tentang kehidupan dan Tuhan. Sudah setahun aku mencari buku karangannya di semua toko buku untuk mencari tahu siapa sebenarnya Leo Tolstoy itu.
Namanya aku kenal ketika aku membaca buku-buku karangan Philip Yancey seperti What’s Amazing About Grace, The Gift of Pain, The Bible that Jesus Read, dsb. Aku termasuk penggemar fanatik dari penulis ini. Wawasannya yang luas dan profesinya sebagai penulis Kristen di Majalah Christianity Today, telah membawa dia bertemu dengan banyak orang seperti Presiden AS, KGB di UniSovyet dan mengunjungi banyak tempat seperti Cina, Argentina, Perancis, dsb.
Rasa penasaranku akhirnya terobati setelah membeli buku ‘Ziarah’ ini. Hanya saja ada sedikit kejanggalan dari buku itu, di bagian belakang cover buku itu tidak diberitahukan apa judul asli dari buku itu dan siapa yang memberikan ijin agar buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian, dalam waktu 2 hari buku itu hapis kulahap dan kunikmati.
Karena rasa penasaranku yang semakin bertambah, aku iseng-iseng ke toko buku online amazon.com, di sana aku menemukan selusin buku karangan Tolstoy. Mudah-mudahan aku dapat kesempatan bagus sehingga aku bisa memiliki semua buku karangannya.
Leo Tolstoy (1828 – 1910) dikenal sebagai sastrawan Rusia terbesar yang berpengaruh luas dalam peta sastra dunia. Tolstoy, putra seorang ningrat tuan tanah di pedesaan Rusia, lahir 9 September 1828 di Yasnaya Polyana, sebelah selatan Moskow. Ia yatim piatu pada usia 9 tahun dan dibesarkan oleh kerabatnya. Ia adalah seorang pemikir sosial dan moral terkemuka pada masanya. Karya-karyanya yang bercorak realis dan bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat. Dua novel magnum opus-nya, War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873), menjadi karya sastra yang dikenang dunia. Dalam kumpulan esainya, Confession (1882), Tolstoy sebagai penganut Kristen Ortodoks, menggambarkan keyakinan spiritualnya pada dua hal utama: cinta bagi seluruh umat manusia dan perlawanan tak kunjung usai terhadap kejahatan.
Kebetulan tahun ini aku sudah bertekad untuk mengumpulkan buku-buku Kristen klasik di mana penulisnya hidup di tahun 1800 -an. A.W Tozer, Madame Guyon, Fenelon, merupakan penulis dan hamba Tuhan yang aku kagumi. Secara pribadi, aku menghindari buku-buku karangan penulis masa kini, terutama yang berasal dari Amerika, karena aku merasa kurang cocok dengan pandangan mereka tentang Kekristenan. Sudah terlalu banyak buku-buku rohani masa kini yang tercampur dengan Teologi Kemakmuran, How To’s, Tips & Tricks, dsb, yang lebih menekankan pada kedewasaan iman secara instan.
Karena alasan ini jugalah, aku memutuskan tidak membeli buku-buku populer seperti God’s Chaser karangan Tommy Tenney, Selamat Pagi Roh Kudus karangan Benny Hinn, dsb. Aku lebih menyukai buku-buku karangan Watchman Nee, Witness Lee, Tolstoy, Fenelon, orang-orang Kudus dari Katolik, dsb, yang kebetulan semuanya berasal dari Asia atau Eropa bukan Amerika.
Di samping itu, dunia perbukuan di Indonesia juga masih menyedihkan. Masih sulit untuk menemukan buku-buku berkualitas dan murah di berbagai toko buku. Tidak hanya buku-buku Kristen, buku lain seperti buku komputer, psikologi, dsb, sulit didapat. Lihat saja buku-buku komputer di Gramedia dan Gunung Agung. Sampai sekarang tidak ada kemajuan, buku-bukunya kebanyakan tipis, pembahasannya dangkal dan tidak menyeluruh, dan kebanyakan hasil terjemahan atau kutipan dari buku lain. Pokoknya masih lebih baik belajar sendiri, kutak-katik sendiri komputer di rumah atau di warnet, dijamin lebih cepat jago daripada pakai buku-buku itu.
Boleh dikata, aku kecewa dengan keadaan sulitnya mendapatkan buku-buku berkualitas. Meskipun begitu, aku masih bersyukur karena aku mendapat kesempatan untuk memiliki buku-buku yang bagus dan aku sukai walaupun tidak banyak.
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait