Hari-hariku sama seperti hari-hari orang lain. Bangun tidur, makan, sekolah, basket,
nonton film seri detektif kesukaanku, nonton kartun, main sega, tidur, gereja, dst-nya.
Disukai cewek tapi tak pernah ambil peduli. Menyukai cewek tapi tak pernah menganggapnya
serius. Teman-temanku banyak dan kebanyakan dari mereka tinggal dengan rumah yang sederhana,
kecil bahkan ada yang tinggal di sebuah ruangan dimana ruang tamu dan ruang tidur dijadikan
satu.
Semuanya itu sudah biasa bagiku karena aku bersekolah di sebuah sekolah negeri yang
menampung murid-murid tak mampu. Aku bisa ada di sekolah itu karena aku mengikuti jejak
teman-temanku yang juga memilih bersekolah di situ. Setiap hari aku bersepeda ke sekolah,
melewati sawah dan jalan yang dipenuhi dengan pepohonan. Tak jarang aku harus hujan-hujanan
dengan sepedaku ketika pulang sekolah.
Sebenarnya aku punya masalah dengan kepercayaan diri. Aku selalu berprasangka yang buruk
bila ada orang berbisik-bisik di dekatku. Aku sering menghukum diriku sendiri, memaki diriku
bila aku gagal mencapai standar yang aku buat sendiri. Aku terlahir dalam keluarga yang
keras. Miskin pujian, kaya tuntutan. Tidak mengherankan bila aku selalu berorientasi pada
prestasi. Pernah suatu kali, nilai raporku banyak yang merah karena aku malas belajar, aku
dihukum berdiri dengan satu kaki diangkat dan kedua tangan menjewer telinga.
Aku suka sekali berenang. Kegemaranku berenang dimulai semenjak aku SMP kelas 2 dan
berlanjut hingga SMA kelas 1. Kelas 2 dan 3 SMA, karena tergoda dengan tayangan NBA yang
saat itu sedang heboh-hebohnya, aku jadi menggemari basket. Setiap kali bel istirahat, aku
dan teman-teman segera berhamburan lari keluar menuju lapangan basket. Walaupun bel tanda
istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, aku tetap saja penasaran dengan bola itu.
Ada seorang temanku yang juga suka bermain basket. Orangnya gemuk dan tidak begitu tinggi,
tapi berhubung percaya dirinya tinggi, dia bisa bermain basket bahkan bergabung dalam tim
basket sekolah. Di rumah pun, setiap sore aku selalu menumpang bermain basket di lapangan
sekolah dekat rumahku. Sampai-sampai, pohon kelapa yang ada di pekarangan rumahku pun
kujadikan ring basket. Tidah usah ditanya, ring basket yang waktu itu terbilang mahal, jadi
penyok dan miring karena cuma dipaku ala kadarnya.
Sempat suatu kali ketika aku men-drible bola di atas tanah berumput di perkarangan
rumahku, aku melihat kucingku ‘huting’ mengais-ngais tanah menimbun kotorannya
sendiri. Dari situlah aku tahu kalau ternyata kucing ‘bertanggung jawab’ sama
kotorannya sendiri.
Kegemaranku pada basket membuatku gemar bermain sega permainan basket dengan
kedua orang adik dan teman-temanku. Temanku-temanku hanya bisa melongo, karena
setiap kali aku menyerang ke kandang lawan, aku bukan mengejar dua poin dengan
lay up atau shoot, aku selalu melakukan three point, dan 99% tembakanku selalu
masuk. Tidaklah mengherankan bila kami baru bermain 3 menit, selisih angka
bisa sampai dua puluh poin.
Waktu berlalu tanpa aku rasakan. Aku tetap menjadi manusia cuek di jaman itu.
Sewaktu aku masih SMP, seorang cewek pernah mengirimkan aku surat dan dia
menjelaskan perasaannya kepadaku. Aku sudah lama tak bertemu dengan cewek
itu karena dia adalah temanku sewaktu SD dulu dan kami sekarang berbeda sekolah.
Karena cueknya aku waktu itu dan dinginnya tanggapanku ketika ia menelepon
karena suratnya itu tidak kubalas, ia berani mengancamku dengan berkata, “Kalo
loe nggak bales surat gue, loe berarti cowok goblok!” Wuih, aku cuma berlagak
bego saat itu dan setelah telepon itupun, aku tidak pernah membalas suratnya.
Padahal kalo aku ingat-ingat, orangnya manis dan agak centil. Ia berambut
sebahu dan suka memakai rok di atas lutut. Kesimpulannya sih, orangnya boleh
juga. Tapi berhubung aku tidak ambil peduli, aku anggap enteng hal itu.
Kejadian ini tidak hanya satu kali. Ada yang mengirimi kartu selamat ulang tahun, menelepon
mengajakku nonton, meneleponku hanya untuk jahil sampai berjam-jam, dsb-nya dan semuanya ini sudah dimulai semenjak aku masih SD. Sampai suatu kali, seorang cewek meneleponku, mengatakan bahwa ia suka padaku, tetapi dengan bodohnya aku justru menjawab, “Nggak, nggak, gua nggak suka sama loe!.” Telepon sempat hening selama 1 menit dan akhirnya terputus. Setelah kejadian itu, ia tidak pernah meneleponku lagi, padahal setiap bel istirahat sekolah dia selalu ke telepon umum untuk meneleponku yang kebetulan waktu itu aku masuk siang.
Aku terbiasa mandiri, mengurusi segala sesuatunya sendiri. Aku tidak boleh
cengeng dan mudah menyerah. Aku dididik untuk menjadi seorang cowok yang kuat,
tidak cepat panik, dan tenang menghadapi segala sesuatu. Dan itu juga merambat
ke masalah hubunganku dengan cewek. Aku sulit untuk jatuh cinta, tetapi sekali-kalinya
aku jatuh cinta, bisa hilang akal sehatku. Perasaan suka juga sering terjadi,
tetapi untuk urusan "merasa jatuh cinta", baru satu kali dalam hidupku,
itupun sewaktu aku masih SMA. Setelah masa SMA, aku hanya bergaul seperti
biasa, terkadang ada perasaan suka dengan seorang cewek, begitu seterusnya.
Aku merasa, aku belum menemukan seorang cewek yang aku cari. Hingga kini,
belum ada satu cewekpun yang bisa membuatku bertindak dan menyatakan kepadanya
kalau dialah cewek pertama dan terakhir yang aku cintai.
Karena sikapku yang cuek, berorientasi pada prestasi, terbiasa mandiri, hingga
kini aku ‘memutuskan dengan kesadaranku sendiri’ untuk tidak berpacaran dan
tidak bermain-main dengan perkara ini. Karena ketetapanku ini, bila orang
lain atau temanku bertanya apakah aku pernah pacaran atau belum, aku selalu
memilih diam kemudian menjawab, "Gua belum pernah pacaran." Aku
tidak merasa malu bahkan aku bangga dengan keputusanku itu karena aku memang
belum menemukan seorang pasangan yang aku tahu dia untukku.
Sekedar curhat, jalan, makan dan nonton bareng sudah jadi komoditi yang biasa
bagiku. Bagiku, undangan makan malam tidak selalu berarti kencan. Nonton dan
jalan bareng tidak selalu berarti pendekatan. Mungkin bagi orang lain aku
sudah seperti pacaran atau pendekatan, tetapi bagiku itu adalah hal biasa
dalam berteman.
Sampai suatu ketika panah dewi cinta menembus hatiku. Dua tahun dalam kelas
yang sama sewaktu SMA, membuatku jatuh hati pada seorang cewek. Senyumannya
manis dan bibirnya yang tipis merah jambu memikat hatiku. Tidak hanya itu,
matanya … yah … matanya membuat jantungku berdebar-debar. Dengan postur
tinggi semampai, ia bisa mengimbangi tinggi badanku. Semuanya bermula ketika
ia menghampiri tempat dudukku dan mengajakku ngobrol. Gaya bicaranya asyik
dan senyumannya menggoda. Belakangan aku tahu, kalau ia datang ke tempat dudukku
karena ia ditantang oleh teman-teman-nya apakah ia punya cukup keberanian
untuk mendekatiku dan ternyata dia melakukannya.
Prosesnya tidak cepat dan perasaanku mulai muncul setelah aku mulai menyadari
kalau dia suka mencuri-curi pandang ke arahku. Sambil berlagak bego, aku pura-pura
tidak tahu kelakuannya itu. Padahal ketika dia lengah, giliran aku yang curi-curi
pandang. Saking mencurigakannya gerak-gerikku, teman-teman sekelasku mulai
ikutan nimbrung bikin gosip baru. Dan lucunya, aku malah digosipin dengan
orang yang salah. Arah pandangku miring 45 derajat, karena aku duduk di belakang
sejajar dengan pintu keluar sementara dia di depan dekat meja guru. Mau nggak
mau, ketika aku melihat ke arahnya, aku juga terkesan melihat ke arah seorang
cewek yang juga duduk di belakangnya. Dengan cewek yang salah inilah aku justru
dijodoh-dijodohkan. Aku semakin sadar tentang kesalah-pahaman ini, ketika
cewek yang salah itu mulai sering telepon ke rumahku. Pokoknya, jadi lucu
dan konyol banget.
Bersambung …
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.