“Mas, rokok Djarum Super-nya satu batang. Sekalian koreknya dong,” kata bapak
pedagang emas itu kepadaku. Mendengar suaranya aku langsung berdiri menggeser
kaca lemari daganganku ke kiri lalu mengambil sebatang rokok yang dia minta.
Biasanya aku mulai menggelar dagangan jam 10 pagi dan inilah pengalaman pertamaku
berjualan di depan rumah. Kebetulan rumahku letaknya di pinggir jalan raya
Jatinegara Barat dan berdekatan dengan bioskop Nusantara yang murah meriah
itu. Kalau mau nomat cukup bayar 5000 rupiah saja.
Kalau nggak salah, saat itu bulan Februari. Setiap pulang sekolah, siangnya
aku menggantikan ibuku menjaga barang dagangan, merapikan botol-botol kosong
teh botol yang dibeli orang. Sekali-sekali aku mengambil permen kopiko yang
ada di dalam stoples untuk mengusir rasa kantukku. Biasanya udara sangat panas
dan debu-debu mengotori wajah dan lenganku. Seringkali kali aku tertunduk
dan berpikir bahwa aku harus kuat dan mengerjakan semuanya itu dengan sungguh-sungguh.
Saat itu keluargaku sedang kesulitan ekonomi. Untuk membayar uang sekolahpun
aku harus menunggu saat-saat terakhir. Pernah suatu kali, orang tuaku sudah
kehabisan akal, hingga akhirnya Tuhan membuka jalan dengan mengirimkan seorang
sahabat ayahku yang datang membawa uang. Itulah salah satu cara ajaib Tuhan
memelihara keluargaku.
Bahkan untuk membeli buku UMPTN pun aku harus merengek-rengek dulu kepada ibuku. Akhirnya
dengan berbekal uang 30.000 rupiah aku memilih dengan hati-hati buku UMPTN yang bagus dan
bisa mewakili kebutuhanku. Di sekolah aku hanya bisa diam mendengarkan teman-teman
sebangku-ku yang asyik berdiskusi tentang pelajaran di lembaga kursus yang mereka ikuti
seperti GO, Sony Sugema, Teknos, dsb. Aku sedih sekali waktu itu karena UMPTN semakin dekat
sedangkan aku cuma mengandalkan buku pelajaran sekolah dan tiga buku UMPTN yang aku
beli.
Sampai suatu ketika, aku menerima ajakan seorang temanku, Santi, untuk ikut kursus di
Teknos tempat dia belajar. Aku masuk bersamanya ke kelas dengan perasaan waswas takut
ketahuan. Jadi skenarionya, aku berpura-pura jadi murid di kelas itu. Setelah dua menit di
kelas itu, aku merasa bingung dan bersalah, dan akhirnya aku keluar dan minta ijin kepadanya
kalau aku ikut di lain waktu saja.
Aku bersekolah di SMU negeri 42 Halim PerdanaKusuma. Aku memiliki teman-teman
yang baik, sederhana, dan aku senang bergaul dengan mereka. Aku mengalami
indahnya persahabatan di kelas 1 dan 2 SMU. Namun di kelas 3 aku harus berjuang
untuk tetap optimis bahwa aku sanggup jadi seorang pelajar yang berhasil.
Di kelas 3, guru-guru yang dulu menyayangiku kini memilih anak kesayangan
yang lain. Aku kehilangan pamor di mata mereka karena ada anak yang lebih
pintar dan rajin dariku. Dan ini cukup membuatku menjadi iri kepada mereka.
Salah satu saingan terberatku adalah seorang cewek yang selalu juara umum semenjak kelas
1 hingga kelas 3, sementara aku hanya ranking satu di kelas. Oleh karena perubahan-perubahan
ini aku menjadi frustrasi. Aku tidak bimbel, aku harus menjaga dagangan sepulang sekolah,
aku memiliki sedikit buku, dan orang tuaku berharap agar aku masuk universitas negeri agar
beban mereka tidak terlalu berat. Soalnya, tidak mungkin aku bersekolah di universitas
swasta karena mahalnya biaya.
Aku bertanya kepada Tuhan bagaimana aku bisa lulus UMPTN bila keadaanku seperti
ini? Apakah bisa dengan belajar sendiri? Orang-orang yang ikut bimbel saja
banyak yang tidak lulus, apalagi aku yang hanya mengandalkan buku pelajaran
dan buku UMPTN? Aku berusaha mengerti keadaan orang tuaku dan aku cuma bisa
menangis dalam kemarahan.
Ketakutan, kebingungan dan kemarahanku tiba pada puncaknya. Aku merasa Tuhan tidak
peduli denganku dan aku melihat sepertinya tidak ada harapan bagiku untuk bisa lulus UMPTN
dengan keadaan seperti ini. Imanku kandas saat itu dan aku marah kepada Tuhan. Aku tertuduk
diam membisu di kebaktian hari minggu itu. Aku tidak mau menyanyi dan berdiri. Aku hanya
duduk.
Namun kebisuanku itu berubah menjadi isak tangis karena alunan lagu yang dinyanyikan
jemaat waktu itu.
Kucari wajah-Mu
Temukan kasih-Mu
Kau bukan Tuhan yang jauh dariku
Kupanggil namamu
Kudengar jawab-Mu
Kau Tuhan yang selalu dengar
Seruan hatiku
Reff:
Sungguh indah Kau Tuhan
Penuh kasih dan sayang
Kau sumber penghiburan
bagi setiap hati yang terluka
Sungguh indah Kau Tuhan
Menara perlindungan
Kau sumber kekuatan
bagi semua orang
yang membutuhkan
Dalam isak tangisku, tidak ada rasa malu waktu itu karena khawatir dilihat orang. Aku
benar-benar putus asa dan Tuhan berbicara secara audibel padaku saat itu. Tidak ada yang
bisa kuandalkan lagi. Kepintaranku? Buku-buku? Bimbel? Teman-temanku? Tidak ada yang bisa
kuandalkan. Aku habis dan aku hanya bisa mengandalkan kemurahan Tuhan dalam hidupku.
Bulan Maret aku lalui dengan berat. Sambil berjualan aku membuka-buka buku saku yang
memuat kumpulan rumus matematika dan fisika. Aku pergunakan buku itu dengan baik dan aku
berusaha menghapal semuanya dengan baik. Sering kali mataku menjadi basah karena aku
menyadari bahwa keadaanku begini dan aku harus tetap bersyukur kepada Tuhan.
Akhirnya sekolahpun libur selama kurang lebih sebulan setelah Ebtanas. Aku
sempat berpikir ingin ikut kelas singkat selama sebulan untuk persiapan UMPTN,
namun aku tidak bisa karena tidak ada biaya. Dengan segala keberadaanku, aku
mencoba menyusun jadwal belajar untuk sebulan itu dengan berjanji pada diri
sendiri bahwa aku akan belajar mata ujian dalam tahun tertentu setiap hari.
Bila ada soal yang tidak aku mengerti, aku harus membuka kembali buku-buku
pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 3 hingga aku benar-benar mampu mengerjakan
soal itu.
Ketika aku lelah, aku ditemani lagu-lagu dari kaset ‘March for Jesus’ yang aku putar.
Lagu-lagunya membawa kenangan bagiku hingga saat ini. Aku belajar dengan mata yang melihat
bahwa masa depanku terselubungi kabut tebal. Tetapi dengan segala keterbatasan buku dan
kemampuanku, aku menjadi belajar untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Sebulan itu terasa begitu lama. Aku berganti-gantian berjualan dengan ibuku dan aku
berusaha menggunakan hari-hari selama sebulan itu dengan baik. Tidak ada yang mengajariku
dan aku harus berjuang untuk belajar sendiri.
UMPTN pun tiba. Dua hari yang paling menentukan dalam hidupku. Dalam penentuan jurusan,
aku dibantu oleh ayahku. Beliau menyarankan agar aku memilih Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia Jurusan Akuntasi, Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Jurusan Akuntasi, dan
Arsitektur UI. Walaupun background-ku adalah IPA, tetapi harapan orang tuaku harus aku
hormati. Sempat seorang sahabatku, teman sebangku-ku, memberikan komentar pesimis tentang
pilihanku itu, “Nekat loe milih itu!” Tetapi aku tetap pada pilihan itu dan segera
mengumpulkan lembar isian pilihan jurusan UMPTN itu kepada guru di depan kelas sebelum aku
terpengaruh dan berubah pikiran.
Dua hari sebelum UMPTN, aku tidak lagi menjamah buku-buku pelajaran. Sore
itu, aku mengambil waktu selama 3 jam, mengurung diri di kamar, berdoa dan
menangis di hadapan Tuhan. Aku cuma bisa mengandalkan Tuhan. Satu-satunya
lagu yang memberiku kekuatan sehingga aku bisa melalui dua hari ujian UMPTN
dalam damai sejahtera yang tak terlukiskan adalah sebuah lagu penyembahan
yang takkan pernah aku lupakan,
Kubersyukur pada-Mu Tuhan
Atas kasih-Mu
Kubermazmur bagi nama-Mu
yang kudus
S’bab Engkau kebenaranku
Pada-Mu kupercaya
Betapa mulianya Tuhanku
kurindu menyatakan
Reff:
Tinggikan diri-Mu mengatasi langit
Kebesaran-Mu Tuhan mengatasi bumi
Tinggikan diri-Mu mengatasi langit
Kemuliaan-Mu Tuhan mengatasi bumi
3 jam berharga itulah yang memberiku kekuatan untuk beriman kepada Allah
bahwa Dia sanggup dan Dia mendengar seruanku. Selama dua hari ujian UMPTN
itu pulalah, aku begitu dekat dengan Tuhan sampai-sampai setiap kali aku menghitamkan
jawaban yang aku pilih, aku berbisik, “Tuhan Yesus, ini jawaban yang aku pilih.”
UMPTN selesai dan akupun harus menunggu pengumuman selama kurang lebih sebulan. Selama
sebulan itu aku tetap melakukan pekerjaanku sembari mengurus ujian masuk STAN (Sekolah
Tinggi Akuntansi Negara). Tujuannya adalah seandainya aku tidak lulus UMPTN, siapa tahu aku
bisa lulus ujian STAN. Beberapa kali bolak-balik Jatinegara-Bintaro Jaya cukup melelahkan.
Hingga akhirnya aku mengikuti ujian STAN di Stadion Utama Senayan. Soal-soalnya setara
dengan UMPTN dengan ditambah wawasan umum. Sempat ada pertanyaan, “Siapa yang pernah
mengalahkan Mike Tyson?” Lucu juga sih ketika dapat pertanyaan seperti itu waktu itu.
Pengumuman pertama yang aku dapat adalah pengumuman hasil Ebtanas dan NEM tertinggi di
sekolahku. Aku berbaris di antara teman-temanku di lapangan basket menunggu wakil kepala
sekolah mengumumkan siapa orangnya. Aku berpikir pasti cewek yang selalu juara umum itu,
mungkin temanku yang pintar dan ikut bimbel Sony Sugema, pokoknya orang-orang yang pantas
dapet NEM tertinggi. Tetapi yang membuatku terkejut hari itu, wakil kepala sekolah memanggil
namaku. Aku terdiam tidak percaya, hingga akhirnya teman-temanku yang terkenal jahil
berlarian menghampiriku. Aku berlari menyelamatkan diri, tetapi malah terjebak. Akibatnya,
celanaku dipelorotin, kemejaku lecek dan dua kancingnya hilang entah kemana. Sambil berdiri
dilihat yang lain, aku tersenyum sambil menarik celana SMA-ku yang sudah turun hingga ke
mata kaki. Untung hari itu, aku memakai celana pendek. Kalau tidak, bisa kelihatan deh
celana dalamku. Aku segera pulang bersama sahabatku, memberitahukannya kepada ibu, dan
mentraktir makan sahabatku, Yusak. Aku benar-benar senang sekali hari itu. Aku mengalahkan
murid-murid kesayangan guru, dan namaku tersebar luas di sekolah waktu itu. Suatu kejutan
dari Tuhan yang sangat aku syukuri.
Pengumuman yang kedua adalah pengumuman hasil ujian STAN. Pagi harinya aku
berangkat bersama seorang temanku, Eko, ke Bintaro dengan harapan lulus. Aku
mengamati papan-papan yang ditempeli kertas yang memuat nama-nama peserta
ujian yang lulus. Selama beberapa menit mencari aku belum juga menemukan namaku,
dan aku mulai khawatir. Setelah 4 papan aku lalui, aku melihat ke papan yang
kelima, dan aku melihat nama panjangku tertera di sana. Seakan tidak percaya,
aku mengeja nama itu hingga aku benar-benar yakin. Respon pertama yang aku
lakukan adalah segera menelepon ibuku dan memberitahu bahwa aku lulus. Aku
senang sekali hari itu. Hanya saja, temanku tidak lulus dan harus pulang dengan
kekecewaan. Hari itu aku menjadi sedikit tenang, karena setidaknya aku masih
ada harapan seandainya ujian UMPTN-ku tidak lulus. Aku bangga sekali karena
termasuk orang yang lolos seleksi secara nasional dan itu karena Tuhan menunjukkan
kemurahan dan kejaiban-Nya dalam hidupku.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Aku enggan beranjak dari tempat tidur
karena hari ini adalah hari pengumuman hasil UMPTN. Aku pikir sebaiknya aku
bangun jam 8 pagi saja. Sambil membolak-balikkan badan mengusir pikiranku
yang tegang, akhirnya aku memutuskan untuk bangun jam 6 pagi. Di ruang depan,
ayahku sudah sibuk membalik-balik halaman surat kabar yang berisi daftar nama
peserta yang lulus ujian UMPTN. Aku sendiri sempat tertawa dalam hati, karena
ayahku sudah keluar pagi-pagi sekali untuk mencari surat kabar itu. Dan lucunya
lagi, dia berusaha mencari namaku di antara ribuan nama itu tanpa menggunakan
nomor peserta ujian milikku dan hanya berbekal kaca pembesar. Aku segera mengambil
kartu ujianku untuk melihat nomor ujianku. Aku berdiri di samping ayahku dan
aku mulai mencari nomor milikku. Jariku mulai bergerak menelesuri nomor-nomor
yang mendekati nomorku, hingga akhirnya jariku terhenti menunjuk sebuah nomor
yang identik dengan nomorku. Namaku ada di sana! Aku segera mengambil buku
panduan UMPTN dan melihat jurusan apa yang aku dapat. Ternyata aku masuk ke
jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Aku segera berjingkrak-jingkrak seperti kuda lepas dari kandangnya. Orang tuaku senang
dan bangga sekali hari itu. Adik-adikku terharu atas keberhasilanku. Aku tertawa. Aku
tersenyum bahagia. Tuhan menjawab doaku. Tuhan mendengar seruanku. Tuhan menghargai air
mataku. Aku tahu, bahwa hari itu, Tuhan ikut tertawa dan tersenyum bersamaku.
Pengalaman hidupku ini memberikanku keyakinan bahwa Tuhan Yesus itu hidup. Dia tidak
mati, tetapi Dia hidup dan masih berkuasa atas segala sesuatu yang ada dalam dunia ini.
Masa-masa sukar yang aku lalui membawaku mengalami keajaiban Tuhan. Masa-masa hampa yang aku
temui membuatku sadar bahwa Tuhan selalu ada bersamaku. Ketidakberdayaan dan hilang harapan
membuatku mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Itulah salah satu kemenangan besar yang Tuhan berikan bagiku. Oleh karena
itu, hatiku bersuka karena kasih setia-Nya. Hatiku bersorak karena perbuatan-Nya
yang ajaib. Meskipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut,
sebab Tuhan besertaku. Tidak sia-sia aku percaya dan berharap kepada-Nya.
Jalan Tuhan tidak terduga. Tuhan menyatakan diri-Nya, mengatasi langit dan
bumi, dan kemuliaan-Nya bersinar dalam keluargaku dan teman-temanku.
Aku hendak menyampaikan kepada sahabat semua, bahwa Tuhan kita, Yesus Kristus, adalah
Allah yang hidup. Dia menderita dan mati di kayu salib karena pelanggaran dan dosa kita,
namun dia bangkit pada hari yang ketiga membawa berita kemenangan bahwa kita semua memiliki
masa depan di dalam Dia. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari
Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua. Selamat Hari Paskah!
However, as it is written: "No eye has seen, no
ear has heard, no mind has conceived what God has prepared for those who love
Him." 1 Corinthians 2:9
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.