However deep the mystery, however many the paradoxes involved, it is still true that men become saints not at their own whim but by sovereign calling. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Short Story

Kala Cinta Berlari

Submitted by dewa on 03/04/2003 – 7:03 PM | 680 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

TEMAN-teman mengatakan aku ini cewek tomboi, kalau dilihat dari potongan rambut, dandanan, dan tingkah lakuku, itu memang benar, tak dapat aku sangkali, aku ini memang cewek tomboi. Aku memiliki rambut pendek, aku tak suka memakai perhiasan dan tak pernah mengerti mengapa barang norak seperti itu ada saja yang mau memakainya, dan aku tak suka memakai rok atau baju yang berenda-renda, baju favoritku adalah kaus, dengan pasangan setianya jeans. Teman-temanku kebanyakan cowok, bukannya aku tidak memiliki teman-teman cewek, tetapi bagiku bermain bersama cowok lebih menarik dan menantang dibandingkan dengan cewek, yang menurut penglihatanku permainannya paling-paling cuma jalan-jalan ke mall cuci mata atau gosipin orang lain. Awalnya aku tak memiliki masalah dengan status cewek tomboi ini, aku sering tak peduli orang mau bilang apa mengenai diriku. Bagiku, aku adalah aku, mau itu tomboi atau tidak tomboi, aku tak mau ambil pusing, toh yang menjalani hidup inikan aku sendiri. Tetapi kegigihanku untuk mempertahankan prinsipku itu akhirnya gugur bagaikan daun yang berjatuhan ketika angin datang bertiup. Angin yang bisa membuat gugur pendirian kerasku itu adalah cowok yang bernama Alvin.

Dia anak baru di sekolahku, katanya dia itu dari daerah, dan pindah ke Jakarta karena orang tuanya pindah tugas kerja ke Jakarta. Ia termasuk orang yang mudah bergaul dan enak untuk diajak ngobrol, maka wajar saja kalau belum sampai satu bulan Alvin sudah memiliki banyak teman di sekolah. Salah satu temannya adalah aku dan teman-teman cowokku. Setiap hari Sabtu aku biasanya ikut eskul Basket di sekolah, dan ternyata Alvin juga memilih untuk mengikuti eskul tersebut. Alvin sangat jago bermain basket, maka ia segera dilirik oleh teman-temanku untuk masuk dalam tim basket sekolah.

Awalnya aku bertemu dengan Alvin cuma saat ada latihan basket, tetapi setalah
beberapa lama, aku dan Alvin menjadi sangat dekat, sedekat aku dengan teman-teman
lamaku. Diri Alvin bukan sosok asing lagi menurut ku, padanya aku sering bercerita
mengenai masalahku atau sekali-kali kalau aku mau pergi ke suatu tempat, Alvinlah
yang menjadi pilihan pertamaku untuk diajak pergi. Bagiku Alvin lebih dari
sekedar teman ngobrol atau teman jalan saja. Dia itu unik dimataku. Entahlah,
kalau di lihat dari wajah dan penampilannya, ia biasa-biasa saja, namun aku
selalu merasa aman dan bebas ketika berada di dekatnya.

Selama beberapa bulan aku dan Alvin bertemu seperti biasanya, dan aku belum
menyadari atau tepatnya aku mencoba untuk menyangkali kalau aku sebenarnya
jatuh cinta kepadanya. Hingga suatu saat aku tak bisa mengelak lagi dari perasaanku
ini, kalau aku sebenarnya telah jatuh cinta kepada cowok yang bernama Alvin.
Aku menjadi bingung. Sebelum-sebelumnya selama aku bergaul dengan teman-temanku
yang cowok, aku tak pernah merasakan perasaan seperti saat ini, aku selalu
bersikap biasa saja terhadap mereka dan tak pernah timbul perasaan suka. Tetapi
kini mengapa dengan Alvin aku memiliki perasaan yang berbeda. Aku selalu ingin
di dekatnya, ingin selalu mendengar suaranya, ingin selalu tahu bagaimana
keadaanya atau apa yang sedang dikerjakannya. Perasaanku ini terus kupendam
terpenjara dalam hatiku. Hingga akhirnya ruang hatiku tak bisa lagi menahan
perasaanku terhadap Alvin yang setiap hari terus bertambah besar. Kini perasaan
itu berlari-larian di seluruh tubuhku. Kadang-kadang ia mampir di kepalaku,
membuat aku menjadi susah tidur ataupun belajar. Terkadang lagi dia mampir
di jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat. Aku ingin sekali Alvin mengetahui
perasaanku kepadanya, tetapi masa aku yang harus memulainya.

Kadang-kadang ia mampir di kepalaku, membuat aku
menjadi susah tidur ataupun belajar. Terkadang lagi dia mampir di jantungku,
membuatnya berdetak lebih cepat. 

Perasaan aku terhadap Alvin kini semakin menjadi-jadi. Ia kini tak lagi hanya
berlari-larian di dalam tubuhku saja, perasaan itu telah keluar dari dalam
tubuhku. Dimana-mana aku seakan-akan melihat Alvin, seakan-akan mendengar
suaranya. Aku sering salah memanggil nama orang dengan nama Alvin. Aku juga
sering berbicara sendiri membayangkan Alvin ada bersamaku Melihat tingkah
laku yang aneh, orang tuaku mulai curiga, apa yang sebenarnya sedang terjadi
dengan anaknya. Mereka mengira aku telah menjadi gila. Baru aku mengerti ternyata
manusia bisa menjadi terlihat gila oleh karena cinta. Perasaan ini tak bisa
lebih lama lagi kupendam, aku harus mengutarakannya kepada Alvin. Aku memilih
mengutarakannya dengan cara perlahan-lahan saja.

Aku semakin sering menelepon ke rumahnya, tanya-tanya apa besok ada tugas atau ulangan, atau sekedar bicara apapun juga. Aku ingin membuat dia berpikir kalau aku menaruh perhatian kepadanya. Setiap hari aku pasti menelepon Alvin, hingga suatu saat aku kaget mendengar dari temanku bahwa Alvin menyukai tipe cewek yang lembut dan feminim. Mendengar itu aku menjadi terdiam seribu bahasa. Aku melihat diriku di hadapan cermin. Potongan rambutku, baju dan celana yangku pakai, kulitku yang tak dihiasi dengan perhiasaan, dan wajahku yang tanpa kosmetik membuat aku berpikir kalau aku bukanlah tipe cewek yang diinginkan oleh Alvin. Aku masih tak percaya akan omongan teman-temanku mengenai Alvin, maka aku memutuskan untuk menanyakannya kepada Alvin secara langsung, apakah benar ia menyukai tipe cewek feminim. Dari mulutnya sendiri, Alvin mengatakan hal yang sama seperti yang kudengar. Bahkan semua mantan Alvin adalah cewek-cewek dengan tipikal feminim.

Berulang-ulang kali aku melihat diriku di depan kaca, bertanya-tanya dalam hatiku apakah aku feminim atau tidak. Kini ada sedikit penyesalan dalam diriku mengapa aku memiliki sikap seperti anak laki-laki, mengapa aku harus menjadi cewek yang tomboi. Di pikiranku mulai muncul pikiran-pikiran yang mengatakan kalau Alvin tak akan pernah suka kepadaku karena aku cewek tomboi, Alvin pasti sudah mengetahui hal itu. Namun aku berusaha melawan pikiran-pikiran itu, aku tak mau menyerah, dihadapan cermin aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku bisa berubah menjadi cewek yang feminim. Aku mulai mengubah cara dandanan dan gaya bicaraku. Aku mulai memakai segala hal yang mencirikan cewek feminim. Rambutku mulai dihiasi dengan pita, leherku kini telah beruntaikan kalung, di tanganku bergelantungan gelang-gelang, jeans kuganti dengan rok, nada bicaraku mulai melembut, dan gaya berjalanku sudah seperti putri dari Solo, melenggak-lenggok.

Teman-temanku kaget melihat perubahan pada diriku ini, Alvin juga termasuk salah satunya. Alvin pernah menanyakan mengenai perubahan pada diriku itu, tetapi aku hanya menjawabnya dengan senyuman saja, dan sejak saat itu ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Aku dengan penampilan baruku ini ternyata tidak membawa perubahan besar dalam hubunganku dengan Alvin dan dengan teman-temanku. Kami masih sering berkumpul bersama, dan tetap melakukan latihan basket setiap hari Sabtu. Walaupun demikian aku menjadi sedikit kurang bebas untuk bersikap kepada mereka. Aku menjadi lebih banyak diam dan malu-malu, menjaga imageku agar jangan sampai terlihat seperti cewek tomboi di hadapan Alvin.

Baru seminggu aku memainkan peranku sebagai cewek feminis, aku mulai merasa capek untuk melakoninya. Kalau di hadapan Alvin aku berlagak feminim tetapi kalau berada di rumah aku kembali lagi menjadi cewek tomboi. Tubuhku seakan-akan terbelah mejadi dua orang yang berbeda. Aku bertanya pada diriku sendiri berapa lama lagi aku harus bertahan dengan keadaan seperti ini, bila hal ini harus terjadi untuk selamanya, apakah aku benar-benar menginginkannya?

Keesokan harinya aku memutuskan untuk kembali lagi ke sifatku yang sebenarnya, entah Alvin menyukainya atau tidak, aku tak bisa hanya mengira-ngiranya lagi. Aku harus menanyakan langsung kepadanya, bagaimana pendapatnya mengenai diriku. Keesokan harinya, aku berkata kepada Alvin untuk bertemu di perpustakaan setelah sekolah usai. Di dalam perpustakaan aku dan Alvin duduk saling berhadapan. Alvin terlihat bingung melihat penampilan diriku yang berubah lagi, ia bertanya kepadaku mengapa aku mengubah penampilanku lagi. Pertanyaan Alvin tak kujuwab, aku diam sambil menatap dirinya, setelah entah beberapa lama, aku bertanya kepada dirinya mengenai bagaimana pendapatnya mengeni diriku. Alvin kini berbalik yang berdiam, ia berbalik bertanya bagaimana pendapat diriku mengenai dirinya. Mendengar pertanyaannya itu aku seakan-akan merasakan bahwa ini adalah moment yang selama ini kutunggu-tunggu, saat inilah aku harus mengutarakan bahwa aku sungguh menyayangi Alvin. Kata-kata itu keluar mengalir begitu saja, tidak ada kata yang terbata-bata. Aku menjelaskan bahwa perubahan pada diriku selama ini dikarenakan oleh dirinya. Setelah mendengar semua ucapanku itu, Alvin tersenyum pada diriku. Senyumannya semakin lama bertambah lebar, hingga akhirnya berubah menjadi tawa.

Aku terdiam. Lalu Alvin memegang kedua tanganku, dengan suara berbisik ia
berkata “Aku juga cinta padamu”. Aku sangat senang saat mengetahui kalau Alvin
ternyata juga menyukai diriku. Kami keluar dari ruangan itu dengan tetap masih
saling berpegangan tangan. Aku tahu sekarang mengapa cinta selalu berlari,
karena cinta harus dikejar, dan orang yang mengejar cinta pasti akan mendapatkannya.

Ditulis oleh: ‘Dewa’ – Sahabat UF

Popularity: 2% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

20 Comments »

  • cicha says:

    Memang untuk menggapai cinta terkadang membuat qta jadi buta dalam segala hal, itu yang dinamakan dengan pengorbanan cinta, tapi aku rasa cinta itu harus bisa tampil apa adanya, biarkan cinta itu mengalir tanpa rekayasa.

  • angie says:

    huahaahaha….lucu juga.ceritanya sederhana tapi lo berhasil mendeskripsikannya dengan jelas.dulunya g juga cewek tomboy cuma g gak sampai seperti lo bela2in berubah jadi feminin.satu yang buat g berubah karna g ngerasa dah tambah umur aja dan profesi g menuntut g untuk feminin.oh ya selamat ya klo si Alvin dah jadi milik lo.g rada kurang stuju dengan pernyataan terakhir lo bahwa orang yang mengejar cinta pasti akan mendapatkannya.soalnya pengalaman pribadi g gak begitu.he..he..terserah apa komentar lo.maybe dia emang belom milik g.yang g percaya Tuhan siapin someone for me.someday i will meet him.GBU.

  • dewa says:

    Hey, gua tuh cowok.

  • chara says:

    Huahahahaha… dewa kena batunya :p

  • Uchan says:

    that’s why cinta dibilang buta…cuman asli cerita loe kayak di sinetron-2…good-lah kalo akhirnya loe menyadari untuk mendapatkan apa yg loe inginkan (dalam hal ini cinta) loe ngga perlu ngerombak total diri loe…be your self honey…:)

  • Gabriella says:

    Waah!!TOP!! asli manis bgt ceritanya….selamat yah…iyah gimanapun kita harus menjadi diri sendiri, pasti manis banget waktu dia bilang kalo dia juga cinta sama kamu. cerita kamu bagus lho…en aku juga jadi tambah yakin ama diri aku bhw kita tetep harus menjadi diri kita sendiri.

  • feronika murti 0r V`ro says:

    perjuangan yang dasyat. . . kayaknya bagus untuk di contoh. thank`s ya dewa, cerita elo keren deh. gw setuju tuh jaimnya di pita ama kalung aja, jangan di make up salah2 muka elo kacau.pengen cantik malah jadi cangkok.he. . he

  • felis says:

    Wah……keren banget ceritanya. Walaupun aku baru disini, tapi klo bisa dibilang.. ini salah satu cerita yg membuatku tertarik untuk beri comments cause bisakuambil hikmatnya….kadang aku tuh udah tau ttg kebenaran tapi kadang aku sendiri lupa dan tdk sadar akan hal seperti itu……mmmmm
    salut deh buat ceritanya…..semoga dewa bisa make talenta yg diberikan JC untuk trus berkarya…
    GBU:)

  • firda says:

    hei, nm g firda, gue orgnya tomboy, dan gue jg lag jatuh cinta ama cowok, tetapi gue nggak pernah maksain diri gue untuk berubah hanya karena dia, prinsip gue gini aja, klo emg dia cinta ke gue , dia bs nerima dan ngertiin gue, krena gue yakin ce tomboy itu punya nilai lebih di mata cowok, banyak sift maskulinnya yang nggak bikin cowok- cowok repot, OK.

  • vincent says:

    Ehm… Menurutku, cinta itu seharusnya bertemu di tengah-tengah. Tidak bisa kita mengharapkan salah satu berkorban dan yang lain tidak. Kedua pihak harus saling berkorban, berkompromi sampai akhirnya keduanya bisa menerima satu sama lain… Kalau kita saling mengharapkan pihak yang lain yang harus mengalah, menurutku itu terlalu egois…

  • Cindy Manizz says:

    aku sukan dengan cerita ini karna ada nilai pelajarannya. i think cinta tak pernah berlari, dan tak perlu dikejar. Love is a bless, is not a game. Love comes not in our time, not in our desire and also not in our way. Love comes by it own way. When it comes just close your eyes and open you heart eye, LOOK you really in the God Heart!!
    Love comes to whom believe it with a great Faith.
    cinta bukan barang bukan juga benda. cinta adalah sebuah pribadi yang hanya dapat dipahami dengan cinta itu sendiri. ia datang kepada siapapun yang ia ingin hinggapi seringkali kita tak menyadarinya atau sengaja membuangnya. setiap detik ia ada. ia utuh tak terbagi. ia manis tap juga menyakitkan. ia membelai dan juga menikam. tak hanya tawa yang ia bri tapi juga darah yang memurnikan. so…. hargai cinta dan ia tak pernah meminta manusia merubah dirinya bukan pribadi bukan gaya bukan pandangan hidup yang cinta pinta hanya cinta yang tulus yang ia pinta.

  • karin says:

    aku pikir cinta itu aneh. kadang nggak bisa di duga. tapi cinta tak pernah berlari. ia menghampiri siapa saja yang dia inginkan dan kita tak dapat memaksa kemana cinta akan menghampiri siapa. yang dapat kita lakukan hanya belajar melihat, berharap dan merasakan ketika cinta itu hadir. dengan siapa cinta itu menghampiri selalu tanpa diduga dan kita kadang bingung untuk melihat. kadangragu untuk percaya dan mungkin kadanbg susah untuk menyatakan dan mengakui bahwa cinta itu telah hadir di hati kita.

  • riel says:

    Banyak yang suka cerita ini yah… :)

  • siana says:

    Hmm cinta ya? apaan tuh hehehehe.
    Cinta itu sama dengan kasih gak?
    Ya, belum punya pengalaman tentang cinta jadi aku gak bisa kasih komentar banyak. Ya mungkin masalah seperti ini harus byk banyak didoakan.

  • lilikhh says:

    Siana yang terkasih, sepertinya kamu belum minum pil yang kakak berikan kepada kamu siang ini.

    Mari kemari dik …

    Minum yuk satu saja ….

    Hehehehe jk jk

    akhirnya loe masuk juga kesini …

    Riel kenalin nih ada temen gue namanya siana …

    Dia jago loh nulisnya …. ^^

    Boleh donk di rekrut buat ngisi disini …

  • siana says:

    Ko Lilik kan aku dah bilang aku gak mungkin terkontaminasi dengan dikau, temen2 si Lilik lagi over dosis, kalo dia over dosis dia pasti masuk kesini, aku cuma bisa bilang hati-hati ya :)

  • siana says:

    Sebenarnya dewa itu cowok apa cewek ya? trus Alvin itu cowok apa cewek? kok jadi tambah bingung, apa cerita ini beneran?

  • nulljangkung says:

    cinta bisa datang kapan saja,datang tampa kabar dan pergi tampa memberi tao,dikala cinta datang merasa bahagia,dikala cinta pergi mersa sedih dan hampa.

  • NAdine says:

    Cinta memang tidak dapat dipaksakan, Aku ini pun juga anak tomboy. Memang benar kata artikel ini. Memang lebih asik main sama cowok dari pada sama cewek. KArna ngomong nya tentang mall lah perhiasan – perhiasan lah dan semacam itu. Biasanya anak tomboy kadang – kadang pake baju cowok, KAdang – kadang sering dikatain cowok lah setengah – setengah lah dan lain – lain, tapi kata artikel diatas Dia suka sama Alvin tapi dia gak mau mengakui. KArna memang sulit mengatakan tersebut, karna biasanya anak tomboy gak suka dandan jadi k’lo mau diajak jalan susah k’lo dandan abis tomboy jadi bagi para cewek tomboy k’lo udah punya pacar ubah sikap lo karna nantinya k’lo kalian semua gak suka dandan bisa repot,nanti malah jadi miss jomblo…..!!!

  • leonard says:

    klo menurut g cewe tomboy tu cocoknya sama cowo feminim..hikzzzz 2…..dan g yakin klo yg nulis ini, dewa kan..pasti cowo feminim….sumph u hrs berubah dewa, klo gak, g yg berubah jd feminim tuk nemenin u..ha77.tp u adl penulis yang baik, kembangkan trus ya…jdikan playanan yang menguatkan orang lain ye…

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.