TEMAN-teman mengatakan aku ini cewek tomboi, kalau dilihat dari potongan rambut, dandanan, dan tingkah lakuku, itu memang benar, tak dapat aku sangkali, aku ini memang cewek tomboi. Aku memiliki rambut pendek, aku tak suka memakai perhiasan dan tak pernah mengerti mengapa barang norak seperti itu ada saja yang mau memakainya, dan aku tak suka memakai rok atau baju yang berenda-renda, baju favoritku adalah kaus, dengan pasangan setianya jeans. Teman-temanku kebanyakan cowok, bukannya aku tidak memiliki teman-teman cewek, tetapi bagiku bermain bersama cowok lebih menarik dan menantang dibandingkan dengan cewek, yang menurut penglihatanku permainannya paling-paling cuma jalan-jalan ke mall cuci mata atau gosipin orang lain. Awalnya aku tak memiliki masalah dengan status cewek tomboi ini, aku sering tak peduli orang mau bilang apa mengenai diriku. Bagiku, aku adalah aku, mau itu tomboi atau tidak tomboi, aku tak mau ambil pusing, toh yang menjalani hidup inikan aku sendiri. Tetapi kegigihanku untuk mempertahankan prinsipku itu akhirnya gugur bagaikan daun yang berjatuhan ketika angin datang bertiup. Angin yang bisa membuat gugur pendirian kerasku itu adalah cowok yang bernama Alvin.
Dia anak baru di sekolahku, katanya dia itu dari daerah, dan pindah ke Jakarta karena orang tuanya pindah tugas kerja ke Jakarta. Ia termasuk orang yang mudah bergaul dan enak untuk diajak ngobrol, maka wajar saja kalau belum sampai satu bulan Alvin sudah memiliki banyak teman di sekolah. Salah satu temannya adalah aku dan teman-teman cowokku. Setiap hari Sabtu aku biasanya ikut eskul Basket di sekolah, dan ternyata Alvin juga memilih untuk mengikuti eskul tersebut. Alvin sangat jago bermain basket, maka ia segera dilirik oleh teman-temanku untuk masuk dalam tim basket sekolah.
Awalnya aku bertemu dengan Alvin cuma saat ada latihan basket, tetapi setalah
beberapa lama, aku dan Alvin menjadi sangat dekat, sedekat aku dengan teman-teman
lamaku. Diri Alvin bukan sosok asing lagi menurut ku, padanya aku sering bercerita
mengenai masalahku atau sekali-kali kalau aku mau pergi ke suatu tempat, Alvinlah
yang menjadi pilihan pertamaku untuk diajak pergi. Bagiku Alvin lebih dari
sekedar teman ngobrol atau teman jalan saja. Dia itu unik dimataku. Entahlah,
kalau di lihat dari wajah dan penampilannya, ia biasa-biasa saja, namun aku
selalu merasa aman dan bebas ketika berada di dekatnya.
Selama beberapa bulan aku dan Alvin bertemu seperti biasanya, dan aku belum
menyadari atau tepatnya aku mencoba untuk menyangkali kalau aku sebenarnya
jatuh cinta kepadanya. Hingga suatu saat aku tak bisa mengelak lagi dari perasaanku
ini, kalau aku sebenarnya telah jatuh cinta kepada cowok yang bernama Alvin.
Aku menjadi bingung. Sebelum-sebelumnya selama aku bergaul dengan teman-temanku
yang cowok, aku tak pernah merasakan perasaan seperti saat ini, aku selalu
bersikap biasa saja terhadap mereka dan tak pernah timbul perasaan suka. Tetapi
kini mengapa dengan Alvin aku memiliki perasaan yang berbeda. Aku selalu ingin
di dekatnya, ingin selalu mendengar suaranya, ingin selalu tahu bagaimana
keadaanya atau apa yang sedang dikerjakannya. Perasaanku ini terus kupendam
terpenjara dalam hatiku. Hingga akhirnya ruang hatiku tak bisa lagi menahan
perasaanku terhadap Alvin yang setiap hari terus bertambah besar. Kini perasaan
itu berlari-larian di seluruh tubuhku. Kadang-kadang ia mampir di kepalaku,
membuat aku menjadi susah tidur ataupun belajar. Terkadang lagi dia mampir
di jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat. Aku ingin sekali Alvin mengetahui
perasaanku kepadanya, tetapi masa aku yang harus memulainya.
Kadang-kadang ia mampir di kepalaku, membuat aku menjadi susah tidur ataupun belajar. Terkadang lagi dia mampir di jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat. |
Perasaan aku terhadap Alvin kini semakin menjadi-jadi. Ia kini tak lagi hanya
berlari-larian di dalam tubuhku saja, perasaan itu telah keluar dari dalam
tubuhku. Dimana-mana aku seakan-akan melihat Alvin, seakan-akan mendengar
suaranya. Aku sering salah memanggil nama orang dengan nama Alvin. Aku juga
sering berbicara sendiri membayangkan Alvin ada bersamaku Melihat tingkah
laku yang aneh, orang tuaku mulai curiga, apa yang sebenarnya sedang terjadi
dengan anaknya. Mereka mengira aku telah menjadi gila. Baru aku mengerti ternyata
manusia bisa menjadi terlihat gila oleh karena cinta. Perasaan ini tak bisa
lebih lama lagi kupendam, aku harus mengutarakannya kepada Alvin. Aku memilih
mengutarakannya dengan cara perlahan-lahan saja.
Aku semakin sering menelepon ke rumahnya, tanya-tanya apa besok ada tugas atau ulangan, atau sekedar bicara apapun juga. Aku ingin membuat dia berpikir kalau aku menaruh perhatian kepadanya. Setiap hari aku pasti menelepon Alvin, hingga suatu saat aku kaget mendengar dari temanku bahwa Alvin menyukai tipe cewek yang lembut dan feminim. Mendengar itu aku menjadi terdiam seribu bahasa. Aku melihat diriku di hadapan cermin. Potongan rambutku, baju dan celana yangku pakai, kulitku yang tak dihiasi dengan perhiasaan, dan wajahku yang tanpa kosmetik membuat aku berpikir kalau aku bukanlah tipe cewek yang diinginkan oleh Alvin. Aku masih tak percaya akan omongan teman-temanku mengenai Alvin, maka aku memutuskan untuk menanyakannya kepada Alvin secara langsung, apakah benar ia menyukai tipe cewek feminim. Dari mulutnya sendiri, Alvin mengatakan hal yang sama seperti yang kudengar. Bahkan semua mantan Alvin adalah cewek-cewek dengan tipikal feminim.
Berulang-ulang kali aku melihat diriku di depan kaca, bertanya-tanya dalam hatiku apakah aku feminim atau tidak. Kini ada sedikit penyesalan dalam diriku mengapa aku memiliki sikap seperti anak laki-laki, mengapa aku harus menjadi cewek yang tomboi. Di pikiranku mulai muncul pikiran-pikiran yang mengatakan kalau Alvin tak akan pernah suka kepadaku karena aku cewek tomboi, Alvin pasti sudah mengetahui hal itu. Namun aku berusaha melawan pikiran-pikiran itu, aku tak mau menyerah, dihadapan cermin aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku bisa berubah menjadi cewek yang feminim. Aku mulai mengubah cara dandanan dan gaya bicaraku. Aku mulai memakai segala hal yang mencirikan cewek feminim. Rambutku mulai dihiasi dengan pita, leherku kini telah beruntaikan kalung, di tanganku bergelantungan gelang-gelang, jeans kuganti dengan rok, nada bicaraku mulai melembut, dan gaya berjalanku sudah seperti putri dari Solo, melenggak-lenggok.
Teman-temanku kaget melihat perubahan pada diriku ini, Alvin juga termasuk salah satunya. Alvin pernah menanyakan mengenai perubahan pada diriku itu, tetapi aku hanya menjawabnya dengan senyuman saja, dan sejak saat itu ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Aku dengan penampilan baruku ini ternyata tidak membawa perubahan besar dalam hubunganku dengan Alvin dan dengan teman-temanku. Kami masih sering berkumpul bersama, dan tetap melakukan latihan basket setiap hari Sabtu. Walaupun demikian aku menjadi sedikit kurang bebas untuk bersikap kepada mereka. Aku menjadi lebih banyak diam dan malu-malu, menjaga imageku agar jangan sampai terlihat seperti cewek tomboi di hadapan Alvin.
Baru seminggu aku memainkan peranku sebagai cewek feminis, aku mulai merasa capek untuk melakoninya. Kalau di hadapan Alvin aku berlagak feminim tetapi kalau berada di rumah aku kembali lagi menjadi cewek tomboi. Tubuhku seakan-akan terbelah mejadi dua orang yang berbeda. Aku bertanya pada diriku sendiri berapa lama lagi aku harus bertahan dengan keadaan seperti ini, bila hal ini harus terjadi untuk selamanya, apakah aku benar-benar menginginkannya?
Keesokan harinya aku memutuskan untuk kembali lagi ke sifatku yang sebenarnya, entah Alvin menyukainya atau tidak, aku tak bisa hanya mengira-ngiranya lagi. Aku harus menanyakan langsung kepadanya, bagaimana pendapatnya mengenai diriku. Keesokan harinya, aku berkata kepada Alvin untuk bertemu di perpustakaan setelah sekolah usai. Di dalam perpustakaan aku dan Alvin duduk saling berhadapan. Alvin terlihat bingung melihat penampilan diriku yang berubah lagi, ia bertanya kepadaku mengapa aku mengubah penampilanku lagi. Pertanyaan Alvin tak kujuwab, aku diam sambil menatap dirinya, setelah entah beberapa lama, aku bertanya kepada dirinya mengenai bagaimana pendapatnya mengeni diriku. Alvin kini berbalik yang berdiam, ia berbalik bertanya bagaimana pendapat diriku mengenai dirinya. Mendengar pertanyaannya itu aku seakan-akan merasakan bahwa ini adalah moment yang selama ini kutunggu-tunggu, saat inilah aku harus mengutarakan bahwa aku sungguh menyayangi Alvin. Kata-kata itu keluar mengalir begitu saja, tidak ada kata yang terbata-bata. Aku menjelaskan bahwa perubahan pada diriku selama ini dikarenakan oleh dirinya. Setelah mendengar semua ucapanku itu, Alvin tersenyum pada diriku. Senyumannya semakin lama bertambah lebar, hingga akhirnya berubah menjadi tawa.
Aku terdiam. Lalu Alvin memegang kedua tanganku, dengan suara berbisik ia
berkata “Aku juga cinta padamu”. Aku sangat senang saat mengetahui kalau Alvin
ternyata juga menyukai diriku. Kami keluar dari ruangan itu dengan tetap masih
saling berpegangan tangan. Aku tahu sekarang mengapa cinta selalu berlari,
karena cinta harus dikejar, dan orang yang mengejar cinta pasti akan mendapatkannya.
Ditulis oleh: ‘Dewa’ – Sahabat UF
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.