Home » Faith Penjara Kasih Karunia
Submitted by riel on 24/03/2003 12:43 AM | 233 views 
Loading ...
Hari Sabtu sore kemaren, 22 Maret, aku duduk bersandar dalam sebuah taksi
sambil melihat ke luar. Pikiranku menerawang sementara taksi meluncur melewati
Pasar Rumput Manggarai, Shangrila Hotel dan Slipi. Sebenarnya tidak ada yang
terlalu istimewa hari itu, hanya saja aku merasa bahwa sore itu cerah dan
indah sekali. Kalau diingat-ingat di masa aku belum mengenal Tuhan, hari-hari
yang kulalui serasa suram, berat dan sepertinya tidak ada harapan. Hidup hanya
mengikuti tanggal kalender yang berubah, sulit untuk berkata, “Hari ini indah
sekali ya!”
Beda sekali dengan sekarang. Mengenal Tuhan membuat hidup menjadi penuh arti.
Sepertinya pikiran dan perasaanku menjadi lebih bright, clear, steady,
calm, peace and clean. Menghirup udara segar di pagi hari menjadi terasa
indah. Duduk dalam bus kota yang penuh sesak membuat aku mensyukuri hidup
ini. Mengamati orang-orang yang bernyanyi dan menyembah Tuhan membuatku meng-amin-kan
betapa Tuhan itu sanggup mengubah orang. Salah satu pengalaman terindah yang
pernah kualami adalah ketika aku melihat orang-orang yang dulu jauh dari Tuhan
dan melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan kini sudah berubah menjadi
murid-murid Tuhan yang berdedikasi dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati,
jiwa dan raganya. Aku jadi malu kalau melihat diriku sendiri.
Mengenal Tuhan dan terus mencari Tuhan dengan sungguh, hanya membuatku merasa
semakin terpenjara dalam kasih karunia-Nya. Dalam penjara kasih karunia-Nya
aku menemukan kedamaian, sukacita, kemenangan, kelepasan dan ucapan syukur.
Hanya dekat Tuhan ada ketenangan. Seperti pasir di laut dan seperti bintang
di langit, aku telah berulang kali mengecewakan Tuhan, tetapi Dia selalu membawaku
kembali. Ini yang kumaksud dengan penjara kasih karunia.
Pikiranku kembali menerawang dibuai deburan ombak yang indah di Pantai Anyer
beberapa tahun yang lalu. Indah sekali! Sambil berdecak kagum hatiku berkata,
“Ciptaan Tuhan bagus banget ya!” Bahkan ketika aku berdiri bersandar di dekat
pintu kereta api Jakarta-Depok di pagi hari hendak berangkat kuliah, aku juga
berdecak kagum melihat sang surya memancarkan sinar kuning keemasan dengan
hangatnya menerpa kulit dan rambutku sementara kereta membawaku melewati pepohonan
dan rumah-rumah penduduk di pinggiran rel. “Terima kasih Tuhan …,”aku berdoa
dalam hati. Semuanya itu aku alami setelah aku mengenal Tuhan dan kasih karunia-Nya.
Bersama Tuhan, hidup menjadi berarti. Bersama Tuhan, takut dan khawatirku menjadi sirna. Bersama Tuhan… aku punya masa depan.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.